Energi Baru dan Terbarukan

Energi baru dan terbarukan merupakan pengelolaan energi dari proses alam yang berkelanjutan dan dijadikan sebagai energi alternatif. Energi baru dan terbarukan bersifat ramah lingkungan sehingga berkontribusi dalam mengatasi pemanasan global dan mengurangi emisi karbon dioksida. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, Indonesia menargetkan penggunaan energi baru dan terbarukan minimum 23% (2025) dan 31% (2050).

kontribusi energi baru dan terbarukan di indonesia

Sumber gambar: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (2017)

Lihat juga materi StudioBelajar.com lainnya:
Wilayah dan Tata Ruang
Batas Laut

Kebijakan Energi Baru dan Terbarukan

Kebijakan energi terbarukan dilaksanakan melalui sebagai berikut.

  1. Konservasi Energi -> pemanfaatan energi yang efisien dan rasional tanpa mengurangi penggunaan energi yang diperlukan
  2. Diversifikasi Energi -> penganekaragaman penyediaan dan pemanfaatan berbagai sumber energi, serta peralihan menggunakan sumber energi yang dapat diperbaharui
  3. Intensifikasi Energi -> pencarian sumber energi baru untuk meningkatkan cadangan energi guna dimanfaatkan sebagai tenaga listrik

Jenis Energi Baru dan Terbarukan

Energi Panas Bumi

Panas bumi berkaitan dengan proses pergerakan magma di dalam kerak bumi menuju permukaan. Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003, energi panas bumi terkandung di dalam air panas, uap air, batuan, mineral, serta gas lainnya dalam sistem panas bumi. Indonesia yang bagian dari wilayah ring of fire diperkirakan memiliki potensi sebesar 40% dari potensi panas bumi dunia. Pembangkit listrik energi panas bumi pertama milik Indonesia didirikan pada tahun 1983 di Kamojang, Jawa Barat.

Keunggulan:

  1. Dampak emisi karbon sangat rendah
  2. Membutuhkan lahan dan sumber air yang relatif sedikit

Kelemahan:

  1. Membutuhkan biaya modal yang tinggi
  2. Dapat mempengaruhi kestabilan tanah di sekitarnya

Energi Air

Energi air termasuk jenis energi kinetik, yaitu besar kecilnya bergantung pada gerakan partikel tersebut. Di Indonesia, potensi tenaga air mencapai 75.000 MW tetapi yang dimanfaatkan baru mencapai 10% dari total potensinya pada tahun 2014. Adapun pemanfaatan energi air adalah sebagai berikut.

  1. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

Prinsip PLTA adalah mengubah energi potensial air menjadi energi kinetik oleh turbin yang kemudian diubah menjadi energi listrik oleh generator. PLTA berdasarkan pada ketinggian dan kecepatan aliran air. Kekurangannya adalah pembangunan PLTA membutuhkan lahan yang luas. Komponen-komponen dasar PLTA adala DAM (bendungan), turbin, generator, transmisi, dan reservoir air.  Di Indonesia, pertama kali dibangun pada tahun 1983 bernama PLTA Ciata, Purwakarta.

energi air sebagai sumber energi terbarukan

Sumber gambar: World Wildlfe Fund Indonesia (2015)

  1. Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH)

PLTMH merupakan pembangkit listri dengan skala kecil dan Batasan kapasitas 5 kW – 100 kW tiap unitnya. Faktor yang dapat mempengaruhi PLTMH adalah debit aliran air dan kemiringan sungai. Alirannya pun dibutuhkan mengalir sepanjang tahun. Biasanya dilakukan di sungai-sungai kecil di tempat terpencil. Contohnya di Indonesia adalah PLTMH Cinta Mekar yang berlokasi di Subang, Jawa Barat.

Keunggulan:

  1. Bendungannya dapat dijadikan objek wisata
  2. Biaya pemeliharaan dan operasional relatif murah

Kelemahan:

  1. Mengganggu keseimbangan ekosistem perairan
  2. Pembangunannya dapat menyebabkan kerusakan geologi seperti tanah longsor dan erosi

Energi Matahari

Matahari sebagai sumber utama yang memancarkan energi paling besar ke permukaan bumi. Jika langit cerah, permukaan bumi diperkirakan menerima energi matahari sekitar 1000 watt/m2. Meskipun begitu, kurang dari 30% energi tersebut akan dipantulkan lagi ke atmosfer. Potensi energi matahari di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 207.898 MW (4,80 kWh/m2/hari). Adapun teknologi dalam pemanfaatan energi matahari adalah sebagai berikut.

  1. Pembangkit listrik tenaga termal -> Energi matahari digunakan untuk memanaskan fluida hingga menghasilkan uap yang kemudian digunakan untuk memutar turbin.
  2. Sel surya fotovoltaik -> Teknologi ini berupa alat yang dapat mengubah energi matahari secara langsung menjadi energi listrik dengan sistem lensa dan mesin kalor.

Keunggulan:

  1. Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca
  2. Dapat dibangun di wilayah terpencil karena tidak memerlukan transmisi energi

Kelemahan:

  1. Membutuhkan modal biaya dan luas lahan yang besar
  2. Efisiensi energi matahari dipengaruhi polusi udara dan kondisi cuaca

Energi Angin

Angin merupakan udara yang bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Hal ini dikarenakan perbedaan penerimaan radiasi matahari dan suhu udara. Pemanfaatan energi angin terjadi melalui tahapan konversi dari energi kinetik menjadi gerak rotor (baling-baling) dan diubah menjadi energi listrik. Adapun faktor besarnya energi listrik adalah diameter kincir (turbin), kecepatan angin, dan jenis generator. Pemanfaatan energi angin meliputi mekanik (pompa air) dan pembangkit listrik tenaga angin. Dibandingkan energi lainnya, potensi energi angin di Indonesia pada tahun 2019 relatif kecil sebesar 60.647 MW. Adapun wilayah yang terdeteksi memiliki potensi energi angin relatif besar adalah Sukabumi, Lombok, Garut, Pandeglang, dan Lebak.

Keunggulan:

  1. Membutuhkan lahan yang kecil
  2. Satu turbin dapat dimanfaatkan untuk listri ratusan rumah

Kelemahan:

  1. Biaya pemeliharaan dan operasional relatif mahal
  2. Sulit diprediksi karena kecepatan angin yang tidak stabil

Bioenergi

Bioenergi merupakan energi terbarukan yang berasal dari bahan baku organik. Bioenergi berasal dari pengolahan biomassa, yaitu material yang dihasilkan oleh makhluk hidup. Adapun contoh bahan baku bioenergi yang biasa digunakan adalah kelapa sawit, kotoran ternak, jarak pagar, ubi kayu, dan lain-lain. Di Indonesia, bioenergi digunakan untuk pembangkit listrik. Hingga tahun 2019 sudah terdapat 4 PLT Bioenergi di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur. Adapun secara garis besar, pengolahan biomassa membentuk energi primer sebagai berikut.

  1. Biofuel (bahan bakar nabati), meliputi:
    • Biodiesel -> Dihasilkan dari minyak nabati yang sifanya menyerupai minyak diesel/solar. Keunggulannya adalah bebas sulfur dan bilangan asap rendah.
    • Bioetanol -> Etanol dari biomassa yang mengandung komponen pati atau selulosa seperti singkong dan tebu. Contohnya adalah gasoline-alkohol (campuran bensin dan bioetanol).
  2. Biomassa padat -> Berasal dari bahan organik yang telak mengalami proses pemampatan (padatan). Contohnya adalah briket biomassa dari tempurung kelapa sawit.
  3. Biogas -> Berasal dari bahan organik yang difermentasi. Contohnya adalah gas metana.

Keunggulan:

  1. Mengurangi impor bahan bakar
  2. Mengeliminasi efek rumah kaca

Kelemahan:

  1. Ketergantungan yang masih tinggi terhadap kayu
  2. Teknologi untuk konversi biomassa membutuhkan biaya yang tinggi

Artikel: Wilayah dan Tata Ruang
Kontributor: Dema Amalia, S.Si.
Alumni Geografi FMIPA UI

Materi Geografi lainnya di StudioBelajar.com: