Kerajaan Tarumanagara

Kerajaan Tarumanagara adalah kerajaan bercorak Hindu-Budha tertua di Jawa. Kerajaan ini diperkirakan berlangsung sejak abad ke-4 sampai dengan abad ke-7 Masehi. Berbeda dengan kerajaan tertua seperti Kutai, Tarumanagara meninggalkan lebih banyak peninggalan arkeologis. Hal ini membantu para ahli untuk memperkirakan bagaimana kehidupan masyarakat dan luasnya pengaruh Tarumanagara.

Tarumanagara juga dikenal dalam beberapa berita Cina, artinya kerajaan ini juga memiliki hubungan luar yang cukup intens. Kerajaan Tarumanagara diperkirakan runtuh pada abad ke-7 yang salah satu alasannya diduga karena pecahnya kerajaan ini menjadi Sunda dan Galuh ditambah dengan adanya serbuan Sriwijaya sekitar tahun 650 M.

Lihat juga materi StudioBelajar.com lainnya:
Perang Diponegoro
Kerajaan Kadiri

Letak dan Pendiri

Tarumanagara terletak di bagian barat pulau Jawa. Prasasti Tugu menyatakan bahwa kekuasaan Tarumanagara pada masa kekuasan Purnawarman membentang dari Banten, Jakarta, Bogor, Karawang, dan Cirebon. Sesuai dengan namanya, Tarumanagara berarti sebuah negara yang berada di sekitar sungai Citarum, Jawa Barat. Tepatnya, pusat kekuasaan Tarumanagara berada di antara sungai Candrabagha, Citarum, Ciliwung, dan Cisadane. Lokasi yang memang menjadi lokasi utama tumbuhnya peradaban. Seperti halnya Kutai di sungai Mahakam, dan Majapahit di sungai Brantas.

Tidak diketahui secara jelas struktur genealogis raja-raja Tarumanagara. Penemuan Prasasti Ciaruteun yang menyatakan nama Purnawarman kemudian disebut sebagai raja pertama sekaligus pendiri ibukota kerajaan yaitu Sundapura. Naskah Wangsakerta di sisi lain, menyatakan bahwa Purnawarman adalah raja ketiga, sedangkan pendirinya adalah Rajadirajaguru Jayasingawarman sekitar tahun 358 Masehi. Naskah ini banyak diragukan kebenarannya oleh para ahli.

Raja-raja yang Memerintah

Seluruh prasasti-prasasti yang diduga merujuk pada peninggalan kerajaan Tarumanagara hanya menunjukkan Purnawarman sebagai raja yang berkuasa. Namun mengingat kerajaan ini yang dimungkinkan berlangsung dari tahun 400-600 Masehi, tentunya Tarumanagara memiliki lebih dari satu raja yang berkuasa. Purnawarman sendiri dianggap sebagai penguasa terbesar yang dimiliki Tarumanagara. Menurut Prasasti Tugu, kekuasaan Purnawarman meliputi wilayah utara Jawa bagian barat. Mulai dari Banten sampai dengan Cirebon. Ia memerintahkan penggalian Sungai Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6.112 tumbak (12 km) dan Sungai Gomati menuju ke laut. Penggalian ini kemudian diakhiri dengan persembahan 1.000 ekor sapi kepada para brahmana. Pusat kekuasaannya diperkirakan ada di wilayah tersebut, antara Bekasi sampai dengan Karawang. Di mana Purnawarman mendirikan ibukota bernama Sundapura. Hal ini dibuktikan dari adanya kompleks Candi Batujaya dan kompleks Cibuaya.

Naskah Wangsakerta di sisi lain, masih sangat diragukan kebenarannya oleh para ahli namun menjelaskan silsilah raja Tarumanagara. Raja-raja Tarumanagara menurut Naskah Wangsakerta adalah sebagai berikut:

  1. Rajadirajaguru Jayasingawarman (358-382)
  2. Dharmayawarman (382-395)
  3. Purnawarman (395-434)
  4. Wisnuwarman (434-455)
  5. Indrawarman (455-515)
  6. Candrawarman (515-535)
  7. Suryawarman (535-561)
  8. Kertawarman (561-628)
  9. Sudhawarman (628-639)
  10. Hariwangsawarman (639-640)
  11. Nagajayawarman (640-666)
  12. Linggawarman (666-669)

Kehidupan Masyarakat

Kehidupan Politik

Kerajaan Tarumanagara seperti kerajaan Hindu-Budha pada umumnya mempergunakan sistem monarki absolut. Berbeda dengan kerajaan yang tumbuh pada awal periode seperti Kutai dan Sriwijaya, Tarumanagara memiliki ibukota yang jelas. Bernama Sundapura di tepi sungai Candrabagha, antara Tugu dan Batujaya (Bekasi). Purnawarman selaku raja diperlakukan sebagai titisan dewa dan banyak melakukan persembahan kepada para brahmana. Pengaruh kekuasaan Tarumanagara banyak bersentuhan dengan kerajaan Kalingga (Ho-Ling) yang berpusat di Jawa Tengah, dan kemudian bersentuhan dengan Sriwijaya di Sumatera Selatan. Runtuhnya kerajaan Tarumanagara sendiri salah satunya dikarenakan oleh serangan Sriwijaya pada tahun 650 ke Pulau Jawa.

Kehidupan Ekonomi

Peradaban Tarumanagara yang berpusat di sekitar sungai-sungai Jawa Barat tentunya menjadi bagian penting dalam kegiatan ekonomi. Beberapa sumber menyatakan adanya hubungan perdagangan dengan kerajaan Ho-Ling. Tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa perdagangan adalah kegiatan ekonomi seluruh kerajaan di Nusantara. Untuk bidang pertanian, dalam Prasasti Tugu dinyatakan bahwa penggalian sungai Candrabagha dan Gomati yang ada di sisi timur dan barat ibukota Sundapura. Kebijakan ini tentunya dipergunakan untuk pengairan lading, dan mungkin pula untuk menghindari potensi banjir terhadap ibukota. Persembahan Purnawarman sebanyak 1.000 ekor sapi kepada brahmana sebagai upacara syukuran atas penggalian sungai ini juga bisa digambarkan sebagai bentuk pengelolaan binatang ternak yang cukup baik. Datagnya berita dari Cina juga adalah bukti bahwa masyarakat Tarumanagara juga berhubungan ke luar melalui jalur air.

Kehidupan Sosial

Ditinjau dari segi sosial, masyarakat Tarumanagara terbagi atas tiga agama. Agama Hindu, Buddha, dan agama asli. Agama Hindu yang kental dengan sistem kasta, belum lagi pengaruh dari India belum lama masuk di tahun-tahun ini. Sehingga agama hindu hanya terbatas pada kalangan keraton yang masuk dalam kasta brahmana dan ksatria. Sementara masyarakat kebanyakan masih mempergunakan agama asli nenek moyang. Kondisi yang sama dengan hampir seluruh kerajaan hindu-buddha di nusantara. Beberapa prasasti seperti Tugu, Ciaruteun, dan Jambu dinyatakan bahwa keluarga keraton Tarumanagara merupakan penganut Hindu yang taat. Dibuktikan dengan adanya upacara-upacara persembahan, ataupun penggunaan atribut-atribut yang merujuk pada kebudayaan Hindu di India.

Runtuhnya Kerajaan Tarumanagara

Runtuhnya Kerajaan Tarumanagara diperkirakan terjadi pada pertengahan abad ke-7 Masehi, terhitung kurang lebih tiga abad berdiri kerajaan ini kemudian runtuh. Setidaknya ada dua faktor utama yang menyebabkan runtuhnya Tarumanagara

1. Serangan Sriwijaya pada tahun 650

Prasasti Kota Kapur (686 M) menyatakan bahwa Dapunta Hyang Sri Jayanasa berupaya melancarkan serangan kepada Bhumi Jawa karena dianggap tidak mau tunduk kepada Sriwijaya. Serangan ini diperkirakan terjadi bersamaan dengan runtuhnya Tarumanagara dan Ho-Ling menjelang akhir abad ke-7 Masehi. Hal ini tentunya cukup kuat karena memasuki abad ke-8, Sriwijaya memiliki ikatan yang kuat dengan Wangsa Sailendra dari Jawa Tengah.

2. Pecahnya Tarumanagara menjadi Sunda dan Galuh

Naskah Wangsakerta, meskipun diragukan kebenarannya menyatakan akhir dari Tarumanagara dengan cukup jelas. Dinyatakan bahwa Linggawarman yang berkuasa sejak tahun 666 banyak mendelegasikan kepemimpinannya kepada raja-raja kecil di daerah. Sehingga kekuasaan masing-masing meningkat signifikan, terlebih yang berada cukup jauh dari ibukota. Galuh yang berada di dekat wilayah Cirebon kemudian memilih memisahkan diri dari Tarumanagara, sedangkan penerus Linggawarman memilih untuk mengubah kerajaan dengan nama Sunda. Munculnya dua kerajaan baru di Jawa Barat ini dianggap sebagai akhir dari Tarumanagara

Peninggalan Kerajaan Tarumanagara

1. Prasasti (Ciaruteun, Tugu, Jambu, dll)

Kerajaan Tarumanagara meninggalkan cukup banyak prasasti apabila dibandingkan dengan kerajaan yang muncul pada periode yang sama seperti Kutai, Sriwijaya, dan Ho-Ling. Setidaknya ada sembilan prasasti utama yang disebut sebagai peninggalan kerajaan Tarumanagara, yaitu:

  • Prasasti Ciaruteun, berisi tapak kaki Purnawarman dan pernyataan kekuasaannya di wilayah tersebut (Sungai Cisadane dan Ciaruteun)

    prasasti ciaruteun peninggalan kerajaan tarumanagara

    Prasasti Ciaruteun
    Sumber gambar: kemdikbud.go.id

  • Prasasti Tugu, bercerita mengenai penggalian sungai Candrabagha dan Gomati
  • Prasasti Jambu. Berisi pujian terhadap Purnawarman yang disamakan dengan dewa Indra
  • Prasasti Telapak Gajah, berisi kaki gajah perang Purnawarman yang dinamai Airawata seperti halnya gajah perang dewa Indra
  • Prasasti Cidanghiyang atau Munjul, berisi puja-puji kepada Purnawarman
  • Prasasti Kebon Kopi
  • Prasasti Pasir Muara
  • Prasasti Pasir Awi
  • Prasasti Muara Cianten

2. Candi (Batujaya & Cibuaya)

Setidaknya ada dua kompleks candi yang dihubungkan dengan kerajaan Tarumanagara karena persamaan kebudayaan dan kedekatannya dengan ibukota Sundapura.

  • Situs Batujaya

Situs Batujaya adalah komplek percandian yang ditemukan di Karawang, tepatnya di tepi muara sungai Citarum. Komplek percandian ini dapat dikatakan cukup besar karena memuat kurang lebih tiga belas artefak candi. Artefak ini terdiri atas Segaran I-VI dan Talagajaya I-VII

  • Situs Cibuaya

Situs Cibuaya juga memuat dua buah artefak candi yang diperkirakan merupakan peninggalan Tarumanagara. Yaitu candi Lmah Duwur Wadon dan Lmah Duwur Lanang. Situs ini ditemukan di wilayah Karawang, arah timur dari Batujaya dan lebih mendekati pantai utara Jawa.

3. Arca (Wisnu, Siwa, Durga, dsb)

Ada banyak sekali arca yang ditemukan dalam kaitannya dengan Tarumanagara. Terutama di lokasi yang berdekatan dengan wilayah ditemukannya prasasti atau komplek candi. Situs Cibuaya misalnya, memuat tiga buah arca Wisnu, Arca Siwa di Tanjung Barat, dan Arca Durga di Tanjung Priok. Gunung Cibodas memuat arca Brahma, arca singa, dan arca Dwarapala. Sementara di Ciampea ditemukan arca gajah. Arca ini biasanya dibuat sebagai atribut upacara keagamaan atau penghias lokasi-lokasi yang dipergunakan untuk berdoa. Banyaknya jenis-jenis arca yang ditemukan ini membuka kemungkinan luasnya persebaran agama di wilayah Tarumanagara.

Kontributor: Noval Aditya, S.Hum.
Alumni Sejarah FIB UI